Di kedalaman Laut Jawa, penyelam berpacu dengan arus, keterbatasan pandangan dan struktur bangkai kapal untuk mencari korban KM Virgo Transport 8. Di tengah operasi tersebut, beredar kisah pasangan suami istri asal Banjarmasin, Yuli dan Muhammad Abdianoor alias Abdi, yang disebut ditemukan bersama di dalam kapal. Namun narasi bahwa keduanya ditemukan “saling berpelukan” belum terkonfirmasi secara resmi. Hingga 22 September 2026, 108 orang tercatat selamat dan 18 meninggal dunia, sementara pencarian korban lainnya terus dilakukan.
BANJARMASIN – NusaKhatulistiwa.com
Laut Jawa belum selesai menyimpan kisah duka dari tragedi KM Virgo Transport 8.
Lebih dari sepekan sejak kapal rute Surabaya–Banjarmasin itu mengalami kecelakaan pada Minggu, 13 September 2026, operasi pencarian dan evakuasi terus dilakukan.
Kini pencarian tidak hanya berlangsung di permukaan laut.
Tim penyelam harus turun menuju bangkai kapal dan memasuki bagian-bagian yang memungkinkan untuk dijangkau, menyusuri ruang demi ruang dalam kondisi bawah air yang penuh risiko.
Di tengah operasi kemanusiaan itulah muncul sebuah cerita yang kemudian menyentuh perhatian masyarakat.
Yuli dan Abdi, Kisah Pasangan yang Menyebar di Media Sosial
Sejumlah unggahan media sosial menyebut dua korban bernama Yuli (29) dan Muhammad Abdianoor alias Abdi (30) sebagai pasangan suami istri asal Banjarmasin yang menjadi korban tragedi KM Virgo Transport 8.
Narasi yang beredar menyebut keduanya ditemukan di dalam badan kapal dalam posisi berdekatan. Bahkan sejumlah unggahan menggambarkan pasangan tersebut ditemukan dalam keadaan “saling berpelukan”.
Cerita itu dengan cepat menyebar dan kemudian dikaitkan dengan ungkapan “cinta sehidup semati”.
Namun, NusaKhatulistiwa.com memberikan catatan penting terhadap informasi tersebut.
Hingga berita ini disusun pada 24 September 2026, keterangan resmi Basarnas yang ditelusuri redaksi belum secara spesifik mengonfirmasi bahwa Yuli dan Muhammad Abdianoor ditemukan dalam posisi saling berpelukan.
Karena itu, detail tersebut harus ditempatkan sebagai narasi yang beredar di media sosial dan belum sebagai fakta resmi yang terverifikasi.
Kehati-hatian menjadi penting, terlebih informasi berkaitan langsung dengan korban dan keluarga yang sedang menghadapi masa berkabung.
Penyelam Masuk ke Bangkai Kapal
Sementara itu, operasi SAR terhadap KM Virgo Transport 8 memasuki tahap yang semakin berat.
Setelah posisi kapal diketahui berada di dasar laut, pencarian difokuskan pula pada bagian dalam bangkai kapal.
Basarnas menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk membantu melihat kondisi bawah laut dan bagian-bagian kapal yang sulit dijangkau.
Kamera pada perangkat tersebut memberikan gambaran awal mengenai struktur bangkai, lorong, ruangan dan titik-titik yang memungkinkan menjadi lokasi korban.
Informasi itu kemudian menjadi salah satu panduan bagi penyelam sebelum melakukan pencarian langsung.
Tugas tersebut bukan pekerjaan sederhana.
Arus bawah laut, keterbatasan jarak pandang, ruang sempit, struktur kapal yang telah berubah, hingga berbagai benda di dalam kapal dapat menjadi ancaman bagi keselamatan penyelam.
Setiap penyelaman harus diperhitungkan dengan matang.
Dua Korban Ditemukan di Dalam Kapal
Pada 21 September 2026, operasi pencarian kembali menemukan korban.
Basarnas mengonfirmasi penyelam Basarnas Special Group (BSG) menemukan dua korban laki-laki di dalam kapal.
Korban pertama ditemukan sekitar pukul 09.04 WITA, disusul korban kedua sekitar pukul 09.13 WITA.
Setelah berhasil dievakuasi dari bangkai kapal, jenazah kemudian diterbangkan menggunakan Helikopter HR-3601 menuju Banjarmasin untuk menjalani proses lebih lanjut, termasuk identifikasi.
Kepala Basarnas M. Syafii menegaskan seluruh unsur SAR terus berupaya mencari serta mengevakuasi korban dan setiap korban yang ditemukan ditangani sesuai prosedur.
Operasi tersebut menjadi perlombaan melawan waktu.
Sebab masih ada keluarga yang menunggu.
108 Selamat, 18 Meninggal, 117 Masih Dalam Pencarian
Berdasarkan pembaruan data hingga Selasa, 22 September 2026 pukul 11.30 WITA, sebanyak 126 orang dari total 243 orang dalam manifes telah ditemukan.
Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan selamat, sementara 18 orang dinyatakan meninggal dunia.
Dengan perhitungan berdasarkan data tersebut, 117 orang masih tercatat dalam pencarian pada saat pembaruan dilakukan.
Data ini berkembang dibandingkan fase awal operasi SAR.
Pada 14 September 2026, sehari setelah insiden, data yang disampaikan mencatat 108 orang selamat, enam meninggal dunia dan 129 orang masih dalam pencarian.
Bertambahnya korban yang ditemukan menunjukkan bagaimana operasi SAR terus bergerak dari hari ke hari.
Namun, di saat bersamaan, angka tersebut juga memperlihatkan besarnya pekerjaan yang masih harus dilakukan.
Hilang Kontak Setelah Menghadapi Cuaca Buruk
KM Virgo Transport 8 sebelumnya melakukan perjalanan dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kapal dilaporkan kehilangan kontak sekitar pukul 02.00 WITA pada 13 September 2026, setelah sebelumnya menghadapi kondisi cuaca buruk di Laut Jawa.
Posisi terakhir yang dilaporkan berada sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Kapal tercatat membawa 243 orang, terdiri atas penumpang dan awak kapal.
Setelah laporan keadaan darurat diterima, operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, unsur maritim serta berbagai potensi SAR lainnya.
Besarnya jumlah korban yang belum ditemukan kemudian menjadi salah satu pertimbangan untuk memperpanjang operasi pencarian.
Tiga Helikopter Disiagakan
Memasuki perkembangan operasi pada 23–24 September, dukungan udara juga diperkuat.
Tiga helikopter disiagakan untuk membantu operasi, yakni dua helikopter Basarnas HR-3601 dan HR-3604, serta Panther TNI Angkatan Laut.
Armada udara tersebut menjadi bagian penting terutama dalam mempercepat evakuasi korban dari lokasi operasi menuju daratan.
Sementara di bawah permukaan laut, penyelam tetap menjalankan tugas yang jauh dari pandangan masyarakat.
Mereka turun menuju kapal yang kini menjadi pusat pencarian puluhan korban.
Setiap ruang yang dapat dimasuki diperiksa.
Setiap titik yang terdeteksi menjadi harapan baru.
Di Balik 243 Nama, Ada Keluarga yang Menunggu
Tragedi KM Virgo Transport 8 pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai sebuah kapal yang tenggelam.
Bukan pula sekadar statistik mengenai berapa orang selamat, meninggal atau masih dicari.
Di balik angka 243 orang dalam manifes, terdapat keluarga.
Ada orang tua yang menunggu anaknya pulang.
Ada anak yang menunggu ayah atau ibunya.
Ada suami, istri dan saudara yang setiap hari menantikan satu kabar dari laut.
Kisah Yuli dan Muhammad Abdianoor yang beredar di media sosial menjadi salah satu gambaran mengenai betapa dekatnya tragedi ini dengan kehidupan manusia.
Namun menghormati korban juga berarti menghormati kebenaran informasi mengenai mereka.
Karena itu, narasi mengenai posisi Yuli dan Abdi ketika ditemukan—termasuk cerita bahwa keduanya berada dalam keadaan saling berpelukan—belum selayaknya dinyatakan sebagai fakta sampai terdapat konfirmasi dari Basarnas, Tim DVI Polri, keluarga atau instansi resmi yang berwenang.
Identifikasi Korban Dilakukan Secara Hati-hati
Proses menemukan korban juga belum menjadi akhir dari pekerjaan.
Identitas setiap jenazah harus dipastikan.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri melakukan proses identifikasi dengan membandingkan data postmortem dengan data antemortem yang diperoleh dari keluarga.
Identifikasi dapat menggunakan berbagai metode, termasuk sidik jari, pemeriksaan gigi atau odontologi forensik, rekam medis, barang atau properti yang melekat pada korban hingga pemeriksaan DNA apabila diperlukan.
Tahapan tersebut diperlukan agar jenazah benar-benar diserahkan kepada keluarga yang tepat.
Bagi keluarga korban, kepastian identitas bukan hanya satu baris data dalam laporan operasi SAR.
Ia adalah jawaban dari sebuah penantian.
Dan bagi petugas SAR yang setiap hari menantang laut, menyelam menuju bangkai kapal dan memasuki ruang-ruang sempit di bawah air, setiap korban yang berhasil ditemukan dan dibawa kembali ke daratan adalah bagian dari tugas kemanusiaan yang belum selesai.
Selama masih ada korban yang belum ditemukan, harapan keluarga tetap tertuju ke Laut Jawa.
Menunggu kabar.
Menunggu kepastian.
Dan berharap orang yang mereka cintai akhirnya dapat kembali pulang.
NusaKhatulistiwa.com akan terus memperbarui perkembangan operasi SAR KM Virgo Transport 8, termasuk identifikasi korban, berdasarkan keterangan resmi Basarnas, Tim DVI Polri dan instansi berwenang.
Catatan Redaksi: Informasi mengenai Yuli (29) dan Muhammad Abdianoor alias Abdi (30), termasuk narasi bahwa keduanya ditemukan “saling berpelukan”, berasal dari materi yang beredar di media sosial. Hingga berita ini disusun pada 24 September 2026, NusaKhatulistiwa.com belum memperoleh konfirmasi resmi Basarnas yang secara khusus membenarkan detail posisi kedua korban tersebut. Oleh karena itu, narasi tersebut tidak dinyatakan sebagai fakta terverifikasi.

