NusaKhatulistiwa.com – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: membangun kemandirian teknologi pertahanan atau terus bergantung pada impor yang melemahkan daya gentar nasional.
Di tengah perubahan lanskap geopolitik global yang semakin keras dan kompetitif, satu realitas tidak dapat lagi disangkal:
kekuatan sebuah negara ditentukan oleh kemampuannya menjaga kedaulatan, bukan hanya melalui diplomasi, tetapi juga melalui daya gentar yang nyata.
Dalam konteks ini, Iran menjadi contoh yang tidak dapat diabaikan. Negara yang selama puluhan tahun berada dalam tekanan embargo justru mampu membangun kekuatan rudal yang signifikan. Bukan karena mereka lebih unggul sejak awal, tetapi karena mereka dipaksa oleh keadaan untuk memilih satu jalan: mandiri atau hancur.
Dari Ketidakberdayaan Menuju Kekuatan
Sejarah mencatat bagaimana Iran pernah berada dalam posisi yang sangat lemah. Pada masa perang dengan Irak, kota-kota mereka dihantam rudal tanpa kemampuan balasan yang memadai. Ketergantungan pada pihak luar menjadi titik lemah yang menyakitkan.
Namun dari situ, Iran tidak memilih untuk terus bergantung. Mereka memulai dari langkah sederhana:
- membeli teknologi
- mempelajari
- membongkar
- dan mengembangkan
Proses ini tidak instan. Ia memakan waktu puluhan tahun. Tetapi hasilnya jelas:
👉 Iran hari ini bukan sekadar pengguna, melainkan produsen kekuatan militer.
Indonesia: Potensi Besar, Arah yang Belum Tegas
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya:
- SDM teknik tersedia
- lembaga riset ada
- industri pertahanan telah terbentuk
- anggaran pertahanan meningkat
Namun semua itu belum terintegrasi menjadi kekuatan strategis yang mandiri.
Yang terjadi justru:
- pembelian alutsista terus berulang
- ketergantungan pada teknologi asing tetap tinggi
- transfer teknologi tidak optimal
Indonesia seolah terjebak dalam siklus:
membeli untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tanpa membangun untuk masa depan
Ketika Diplomasi Tidak Cukup
Indonesia dikenal sebagai negara dengan prinsip bebas aktif dan menjunjung tinggi perdamaian. Namun dunia tidak selalu berjalan berdasarkan prinsip tersebut.
Realitas hari ini menunjukkan:
- kawasan Indo-Pasifik menjadi arena perebutan pengaruh
- konflik potensial meningkat
- kekuatan militer menjadi alat negosiasi yang nyata
Dalam situasi ini, ketahanan nasional tidak bisa hanya bergantung pada goodwill internasional.
👉 Ia membutuhkan kapasitas nyata yang mampu menciptakan daya tangkal.
Masalah Utama: Bukan Kemampuan, Tapi Keberanian
Secara teknis, Indonesia mampu.
Secara sumber daya, Indonesia siap.
Namun yang menjadi hambatan utama adalah:
- keberanian politik
- konsistensi kebijakan
- visi jangka panjang
Selama orientasi masih pada: 👉 impor sebagai solusi cepat,
maka kemandirian akan selalu menjadi wacana, bukan kenyataan.
Pelajaran Paling Tajam dari Iran
Iran mengajarkan satu prinsip mendasar:
“Kedaulatan tidak pernah diberikan, ia harus dibangun.”
Mereka tidak menunggu diakui.
Mereka tidak menunggu kondisi ideal.
Mereka membangun, meski dalam tekanan.
Sebaliknya, Indonesia masih sering menunda dengan berbagai alasan:
- stabilitas
- diplomasi
- efisiensi
Padahal, dalam jangka panjang, alasan-alasan tersebut justru memperpanjang ketergantungan.
Risiko Strategis Jika Tetap Bergantung
Jika pola ini terus dipertahankan:
- Indonesia akan tetap menjadi pasar bagi industri pertahanan global
- biaya pertahanan akan terus meningkat tanpa kemandirian
- posisi tawar Indonesia akan tetap terbatas
Lebih jauh lagi, Indonesia berisiko kehilangan momentum untuk menjadi kekuatan regional yang mandiri.
Pilihan yang Menentukan Masa Depan
Pada akhirnya, pertanyaan ini tidak lagi bersifat teknis, melainkan strategis:
Apakah Indonesia akan:
- terus menjadi pembeli dalam sistem global,
atau - bertransformasi menjadi produsen kekuatan?
Sejarah menunjukkan bahwa negara besar tidak lahir dari ketergantungan.
Dan dalam dunia yang semakin kompetitif, satu hal menjadi pasti:
👉 kedaulatan hanya dimiliki oleh mereka yang berani membangunnya.
“Indonesia punya semua syarat untuk mandiri di bidang pertahanan.
Namun satu hal yang masih dipertanyakan: keberanian untuk memulai.”
👉 Apakah Indonesia harus belajar dari Iran?
👉 Atau tetap menjadi pasar industri pertahanan global?
Baca opini lengkap hanya di NusaKhatulistiwa.com
Penulis:
M. Supian Noor, SH., MH.
(Advokat & Mediator Pengadilan)
#KedaulatanNegara #PertahananIndonesia #Geopolitik #IndustriMiliter #OpiniNasional #NusaKhatulistiwa

