NusaKhatulistiwa.com, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, melontarkan peringatan keras kepada perempuan Indonesia terkait bahaya serius memiliki pasangan perokok. Ia menegaskan bahwa paparan asap rokok dalam jangka panjang bukan sekadar isu kebiasaan pribadi, melainkan ancaman nyata terhadap kesehatan dan keselamatan hidup perempuan.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, yang kemudian memantik diskusi luas di ruang publik. Dalam pesannya, ia menyoroti fenomena perokok pasif—khususnya perempuan dan anak—yang kerap menjadi korban tanpa pernah memilih untuk merokok.
“Buat para perempuan, termasuk anak kamu sendiri, jangan pernah mau sama cowok perokok. Ini red flag besar. Dia yang merokok, tapi tubuhmu yang harus menanggung,” tegas Budi.
Menurut Budi, risiko kesehatan akibat asap rokok jauh lebih besar bagi perokok pasif dibandingkan yang selama ini dipahami masyarakat. Asap rokok mengandung ribuan zat berbahaya, termasuk karsinogen yang dapat memicu kanker, penyakit jantung, gangguan kehamilan, hingga kematian dini.
Ia menekankan bahwa banyak perempuan terjebak dalam relasi yang secara perlahan menggerus kesehatan mereka, tanpa disadari. Dalam konteks rumah tangga, asap rokok bukan hanya merusak paru-paru pasangan, tetapi juga mengancam janin, bayi, dan anak-anak yang terpapar setiap hari.
Data kesehatan nasional menunjukkan bahwa paparan asap rokok di lingkungan rumah masih sangat tinggi, terutama di keluarga dengan laki-laki perokok aktif. Kondisi ini memperbesar beban penyakit tidak menular dan menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya biaya kesehatan nasional.
Budi menegaskan bahwa pesan ini bukan bentuk diskriminasi, melainkan upaya edukasi publik agar perempuan lebih berani menjaga hak atas tubuh dan kesehatannya sendiri. Ia menyebut, memilih pasangan yang merokok harus dipahami sebagai persoalan kesehatan publik, bukan semata urusan selera atau toleransi.
“Kita sering bicara cinta dan kompromi, tapi lupa bahwa kesehatan adalah fondasi utama kehidupan. Jangan sampai perempuan dipaksa membayar kebiasaan buruk orang lain dengan tubuhnya sendiri,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan RI terus mendorong kampanye pengendalian tembakau, termasuk penerapan kawasan tanpa rokok, edukasi keluarga sehat, serta peningkatan kesadaran tentang bahaya perokok pasif. Namun, Budi menilai perubahan terbesar justru harus dimulai dari kesadaran individu dan keberanian mengambil keputusan tegas.
Peringatan ini sekaligus menjadi refleksi sosial: sejauh mana masyarakat masih menormalisasi kebiasaan merokok, meski dampaknya nyata dan mematikan bagi orang-orang terdekat.
Di tengah tingginya angka penyakit akibat rokok, pesan Menteri Kesehatan tersebut menjadi alarm keras bahwa cinta, relasi, dan keluarga tidak seharusnya dibangun di atas risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

