NusaKhatulistiwa.com – Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial kembali diramaikan oleh unggahan yang mengklaim bahwa ekstrak akar dandelion mampu membunuh hingga 90% sel kanker ganas dalam waktu kurang dari dua hari, tanpa merusak sel sehat di sekitarnya. Klaim tersebut banyak dikutip dari riset laboratorium yang dibuat oleh tim peneliti University of Windsor, Kanada.

Unggahan tersebut menyebutkan bahwa dandelion memiliki polifenol dan antioksidan yang mampu mengganggu suplai energi sel kanker, memicu apoptosis (bunuh diri sel), serta meningkatkan imunitas. Beberapa konten bahkan menarasikan bahwa terapi herbal ini bisa menjadi alternatif yang lebih aman dibandingkan kemoterapi konvensional.
Namun, seberapa valid klaim tersebut?
🔍 Penelusuran NusaKhatulistiwa.com: Apa yang Benar dari Penelitian Ini?
Riset yang menjadi rujukan viral tersebut memang ada, namun memiliki batasan ketat:
- Penelitian dilakukan pada kultur sel (in vitro), bukan pada tubuh manusia.
Peneliti menemukan bahwa ekstrak akar dandelion menyebabkan apoptosis pada beberapa jenis sel kanker, seperti:
kanker prostat
kanker kolon
leukemia
Namun ini hanya terjadi di cawan laboratorium, bukan pada sistem tubuh manusia yang kompleks.
- Tidak ada bukti klinis bahwa dandelion dapat menggantikan kemoterapi.
Hingga sekarang, belum ada uji klinis berskala besar yang menunjukkan efektivitas dandelion sebagai obat kanker.
- Para peneliti sendiri menegaskan bahwa hasilnya bersifat awal, bukan rekomendasi terapi.
Salah satu peneliti menyatakan bahwa ekstrak dandelion potensial, tetapi perjalanan menuju obat kanker membutuhkan proses panjang—termasuk uji toksisitas, uji hewan, dan uji klinis tahap manusia.

🩺 Pendapat Pakar: Hati-Hati dengan Klaim “Menyembuhkan Kanker”
Dokter onkologi yang dihubungi NusaKhatulistiwa.com menjelaskan bahwa:
“Penelitian dandelion memang menarik secara ilmiah, tetapi belum menjadi terapi standar. Banyak tanaman bisa membunuh sel kanker di laboratorium, namun tidak otomatis efektif atau aman di tubuh manusia.”
Pakar farmasi juga menambahkan bahwa dosis, cara ekstraksi, serta efek samping harus diuji secara ketat sebelum bisa disebut sebagai “obat”.
📢 Analisis Konten Viral: Mengapa Mudah Disalahpahami?
Tim NusaKhatulistiwa.com menemukan beberapa pola misinformasi:
- Judul yang dilebih-lebihkan
Unggahan seperti “Akar Dandelion Terbukti Membunuh 90% Sel Kanker dalam 2 Hari” memotong konteks ilmiah dan menghilangkan batasan penelitian.
- Penyajian seolah-olah sudah menjadi obat resmi
Padahal belum ada izin BPOM atau lembaga medis manapun.
- Minim peringatan risiko dan batasan
Padahal konsumsi herbal pekat bisa menimbulkan interaksi obat, gangguan ginjal, atau efek alergi.
🌿 Potensi Dandelion Tetap Ada — Tapi Harus di Jalur Penelitian
Dandelion memang memiliki komponen biologis yang menjanjikan, seperti:
polifenol
antioksidan
zat anti-inflamasi natural
Bahkan beberapa negara telah memulai studi lanjutan untuk melihat dampaknya pada kanker dan penyakit inflamasi.
Namun hingga kini, dandelion belum bisa dianggap sebagai obat kanker, melainkan bahan penelitian yang potensial.
⚠️ Kesimpulan Investigatif
Setelah menelusuri sumber ilmiah, wawancara pakar, dan membandingkan dengan narasi media sosial, NusaKhatulistiwa.com menyimpulkan:
- Benar bahwa ada penelitian yang menunjukkan ekstrak akar dandelion dapat membunuh sel kanker—tetapi hanya pada kultur laboratorium.
- Belum ada bukti klinis bahwa dandelion bisa menyembuhkan kanker pada manusia.
- Klaim yang beredar di media sosial cenderung menyesatkan karena menghilangkan konteks ilmiah.
- Pengobatan kanker tetap harus melalui dokter dan terapi medis yang telah teruji.
- Dandelion dapat menjadi suplemen pendukung, tetapi bukan pengganti pengobatan.

