Rab. Jan 14th, 2026

Lonjakan Kasus DBD Tekan Layanan Kesehatan Banjarmasin, PMI Waspadai Krisis Trombosit Jelang Akhir Tahun

Banjarmasin, NusaKhatulistiwa.com — Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjarmasin mulai memberikan tekanan serius terhadap sistem layanan kesehatan, khususnya pada ketersediaan trombosit di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Banjarmasin.

Lonjakan permintaan terjadi secara mendadak, bahkan dalam satu malam tercatat permintaan hingga 65 kantong trombosit, angka yang jauh melampaui kemampuan stok harian.

Kepala UDD PMI Kota Banjarmasin, dr. Aulia Ramadhan Supit, menyampaikan bahwa kondisi tersebut membuat pihaknya harus bekerja ekstra untuk memastikan kebutuhan pasien tetap terpenuhi.

“Di musim penghujan ini situasi cukup berat. Sampai malam tadi saja ada permintaan 65 kantong trombosit. Ini melampaui kapasitas stok harian kami,” ujar dr. Aulia, Jumat (12/12/2025).


Trombosit Tidak Bisa Disimpan Lama

Berbeda dengan komponen darah lainnya, trombosit memiliki karakteristik khusus karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Masa kedaluwarsanya hanya sekitar empat hari, dan proses pembuatannya bergantung pada darah segar yang harus segera diolah setelah pengambilan.

Kondisi tersebut menyebabkan lonjakan permintaan mendadak sulit diantisipasi, terlebih ketika terjadi peningkatan kasus DBD secara bersamaan.

“Produksi trombosit sangat bergantung pada donor darah segar. Jika permintaan datang tiba-tiba, stok tidak bisa langsung tersedia,” jelasnya.


Pasien Dewasa Mulai Mendominasi

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr. Muhammad Syaukani, mengungkapkan adanya perubahan pola pasien DBD. Menurutnya, saat ini pasien usia dewasa mulai mendominasi, menandakan bahwa risiko penularan semakin meluas.

“Perubahan kelompok usia pasien menunjukkan bahwa penularan DBD tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu,” ujarnya.

Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan kasus berpotensi terus berlanjut apabila langkah pencegahan tidak diperkuat.


Musim Hujan Jadi Faktor Risiko

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menilai musim penghujan menjadi faktor utama meningkatnya kasus DBD. Genangan air, selokan tersumbat, serta wadah air terbuka menjadi tempat ideal berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.

“Musim hujan memang selalu menjadi periode paling rawan bagi penyakit berbasis lingkungan, termasuk DBD,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk kembali mengaktifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.


PMI Ajak Masyarakat Aktif Donor Darah

Di tengah tekanan permintaan trombosit, PMI Kota Banjarmasin kini melakukan langkah proaktif dengan menghubungi para pendonor aktif satu per satu guna memastikan ketersediaan darah segar.

“Kami berharap masyarakat tidak berhenti mendonor, apalagi ini memasuki masa persiapan Natal dan Tahun Baru,” kata dr. Aulia.

PMI juga mendorong pemerintah daerah agar mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi donor darah sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.


Perlu Kewaspadaan Bersama

Meski lonjakan kasus DBD belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa, akumulasi permintaan trombosit menunjukkan bahwa sistem layanan kesehatan berada dalam kondisi waspada tinggi.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa pencegahan DBD dan ketersediaan darah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *