Rab. Jan 14th, 2026

Ancaman “Super Flu” H3N2 Menguat, Dokter Anak Ingatkan Risiko Lonjakan Kasus Influenza

NusaKhatulistiwa.com | Banjarbaru —
Ancaman penyebaran influenza A H3N2 yang dijuluki sebagai “super flu” kembali menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Data terbaru dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan aktivitas influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya yang hanya tercatat di 17 negara bagian.

Lonjakan tersebut dinilai menjadi sinyal peringatan global, termasuk bagi Indonesia, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus influenza di awal tahun.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nastiti Kaswandani, mengingatkan bahwa virus influenza A H3N2 memiliki tingkat penularan yang cepat dan berpotensi menimbulkan wabah influenza massal apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Penularannya sangat cepat. Satu orang bisa menularkan ke dua hingga tiga orang di sekitarnya. Varian ini juga berpotensi menular lebih luas, meski hingga kini belum ada penelitian lanjutan yang memastikan tingkat penularannya lebih tinggi,” ujar Nastiti.

Mudah Menular dan Berpotensi Bermutasi

Menurut Nastiti, virus H3N2 dikenal mudah menular dan memiliki kemampuan bermutasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya lonjakan kasus influenza yang dapat berdampak pada meningkatnya jumlah pasien yang memerlukan perawatan medis, termasuk rawat inap di rumah sakit.

Ia menegaskan, lonjakan kasus influenza tidak hanya membebani sistem layanan kesehatan, tetapi juga berisiko terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta.

Gejala Mirip Influenza, Sulit Dibedakan

Secara klinis, gejala yang ditimbulkan oleh “super flu” H3N2 menyerupai influenza pada umumnya. Gejala yang sering muncul antara lain demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, nyeri otot, hingga gejala flu yang muncul secara mendadak.

“Secara klinis, dokter sulit membedakan apakah pasien terinfeksi influenza biasa atau H3N2 subclade tertentu. Dari gejalanya, hampir tidak bisa dibedakan,” jelas Nastiti.

Ia menambahkan, khususnya pada varian subclade K dari H3N2, pemeriksaan klinis semata tidak cukup untuk memastikan jenis virus yang menginfeksi pasien.

Deteksi Perlu Pemeriksaan Lanjutan

Influenza pada umumnya dapat dideteksi melalui rapid test atau pemeriksaan swab. Namun, untuk memastikan infeksi H3N2 beserta variannya secara akurat, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa genome sequencing di laboratorium dengan fasilitas canggih, seperti yang diterapkan saat pandemi Covid-19.

“Untuk memastikan subclade H3N2, diperlukan pemeriksaan genome sequencing. Ini tidak bisa hanya mengandalkan pemeriksaan klinis atau rapid test biasa,” tegasnya.

Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat

Menyikapi potensi penyebaran virus tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat mengalami gejala flu, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi disertai keluhan berat.

Para orang tua juga diminta lebih waspada terhadap kondisi anak-anak, sementara kelompok lansia dan penderita penyakit kronis dianjurkan untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala influenza yang memburuk.

Para pakar kesehatan menegaskan bahwa deteksi dini, kewaspadaan masyarakat, dan kesiapan layanan kesehatan menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus influenza massal di awal tahun.

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *